Friday, June 13, 2008

MAKAN HAMBURGER DI DEPAN MESJID NABAWI(17)

17. MAKAN HAMBURGER DI DEPAN MESJID NABAWI (blog)
Ketika kami keluar dari hotel untuk kedua kalinya, jam sudah menunjukkan angka 10 pagi waktu Saudi Arabia. Perut sudah mulai kosong. Apalagi dalam keadaan dingin begitu. Tentu amat dibutuhkan banyak makanan sebagai penghangat tubuh.
Masih kuingat dulu apa kata orang-orang yang bercerita kepada saya ketika masih berada di Indonesia. Katanya, begitu pintu hotel dibuka., akan banyak kita lihat penjual nasi dan makanan-makanan Indonesia. Tapi nampaknya apa yang saya dengar itu bukan cerita yang benar. Mungkin saja itu benar pada tempatnya atau juga di tempat lain. Tapi pada tempat sekitar hotel kami, itu cerita yang tak ada buktinya. Kami sudah berjalan jauh ketika mencari jacket pada salah seorang teman yang kuceritakan tadi. Tapi tak ada satupun kami temui rumah makan atau pedagang yang menjual makanan orang Indonesia.
Masih beberapa langkah kami beranjak dari hotel, rombongan lain dari kelompok kami satu kloter segera kami lihat. Mereka datang dari arah depan. Katika semakin dekat, seorang dari teman saya bertanya pada mereka, apakah mereka sudah makan pagi. Mereka menjawab, belum. Memang dari keadaannya, mereka nampak agak pucat dan kelalahan. Mungkin karena belum makan pagi.
Perjalanan kami kali ini adalah menuju Masjidil Nabawi dan juga mencari makan pagi, serta membeli keperluan-keperluan lainnya. Di perjalanan ini, terbuktilah bagi saya bahwa jarak antara hotel saya dengan mesjid, ada sekitar 2,5 km. Jarak yang amat jauh. Apalagi untuk teman saya yang sering saya sebut “Pak tua”. Tapi karena penuhnya semangat, perjalanan jauh itu sepertinya tak merupakan beban berat bagi kami semua.
Ketika kami tiba di depan mesjid Nabawi, kami terus menuju pekarangannya yang amat luas. Seterusnya ingat apa kata guru kami dulu. Kalau hendak masuk ke mesjid Nabawi, hendaklah kita membaca satu do’a. Memang saya hanya bermaksud untuk masuk ke pekarangannya saja. Karena waktu sholat masih lama baru tiba. Tapi walaupun begitu, saya segera membaca doanya. Begini kira-kira arti do’a yang saya baca.
“DENGAN NAMA ALLAH DAN ATAS AGAMA RASULULLOH. YA ALLAH, MASUKKANLAH AKU DENGAN CARA MASUK YANG BENAR. DAN KELUARKAN PULA AKU DENGAN CARA YANG BENAR. DAN BERIKANLAH PADAKU DARI SISIMU, KEKUASAAN YANG DAPAT MENOLONG. YA ALLAH, LIMPAHKANLAH RAHMAT KEPADA JUNJUNGAN KAMI MUHAMMAD DAN KELUARGANYA. AMPUNILAH DOSAKU, BUKALAH PINTU RAHMATMU BAGIKU. DAN MASUKKANLAH AKU KE DALAMNYA. WAHAI TUHAN YANG MAHA PENGASIH DARI SEGALA YANG PENGSASIH”.
Di pekarangan mesjid yang amat luas itu, yang luasnya kira-kira selebar lapangan sepak bola, di situlah kami berada. Lapangan luas itu berlantai keramik berwarna biru. Kramik yang cukup halus dan mengkilat. Sementara di pinggir-pinggir lapangan itu, tersusun berderet toko-toko kecil yang menjual berbagai jenis keperluan. Ada yang menjual souvenir, ada yang menjual alat-alat ibadah seperti tasbih, sajadah, dan ada yang menjual pakaian muslim, menjual alat-alat keperluan dapur, dan berbagai macam lainnya. Tapi tentu semua barang-barang ini berbeda dengan model barang-barang di Indonesia. Hampir seluruhnya berbeda.
Sedemikianlah model pinggiran lapangan mesjid Nabawi itu. Sementara di lapangan pekarangan mesjid yang amat luas itu, banyak orang hilir mudik kesana-kemari. Ada yang melihat-lihat sambil menunggu waktu sholat. Ada yang seperti kami. Ada yang duduk-duduk, ada yang mengaji berduaan dengan istrinya. Ada yang terbaring terlentang di atas hamparan kramik yang luas dan bersih itu. Berbagai macam keadaan.
Ketika sedikit demi sedikit kami menelusuri pinggiran pekarangan mesjid itu, kami segera melihat satu toko penjual makanan. Di toko itu sedang banyak orang yang beli. Makanan yang dijualnya satu macam saja. Yaitu ayam hamburger. Perut yang terasa lapar dari tadi, segera terasa tak tertahankan lagi. Kami sepakat untuk membeli satu buah untuk setiap orang. Sebagai makanan kami sebelum menemukan penjual nasi sebagai makanan yang paling cocok untuk orang-orang Asia Tenggara. Harga makanan itu 5 Riyal (15.000). Makanan habis kami santap sebentar saja. Hanya untuk menghilangkan rasa lapar yang semakin lama semakin mengganggu. Penjual hamburger itu tidak menyediakan tempat duduk atau meja untuk para pembelinya. Jadi kami memakannya dengan keadaan berdiri saja. Sebagian orang yang lain yang ada di sekitar kami, ada yang memakannya dengan duduk saja di hamparan kramik yang amat luas itu. Sehabis makan hamburger itu, kami istirahat sejenak, sebelum melaksanankan perjalanan selanjutnya.
Oleh Mr. Tanjung panyabungan
Bila ingin membaca buku karangan saya mengenai haji,anda bisa memperoleh bukunya dengan mengklik link ini

No comments: